Bacaan Sujud Allahumma inni audzu biridhaka min sakhatik
Bacaan Sujud “Allahumma inni a’udzu biridhaka min sakhatik” ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 11 Rabiul Awal 1448 H /24 Agustus 2026 M.
Kajian Tentang Bacaan Sujud “Allahumma inni a’udzu biridhaka min sakhatik”
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan ampunan-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu. Aku tidak mampu memuji-Mu dengan sempurna. Engkau Maha Sempurna sebagaimana yang Engkau jelaskan tentang kesempurnaan diri-Mu.”
Doa ini terkadang dibaca oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika melaksanakan shalat tahajud.
“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada suatu malam ia kehilangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketika terbangun, ia tidak mendapati beliau di sampingnya. Suasana saat itu gelap karena Nabi mematikan lampu ketika tidur. Aisyah kemudian meraba-raba mencari beliau dan mendapati beliau sedang sujud. Ia mengetahui hal itu karena kedua telapak kaki Nabi dalam posisi tegak berdiri.” (HR. Muslim)
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan agar wadah-wadah yang berisi air atau makanan ditutup dan lampu dipadamkan ketika hendak tidur.
Aisyah radhiyallahu ‘anha meraba-raba mencari Nabi hingga menyentuh kedua telapak kaki beliau. Kedua telapak kaki itu dalam posisi tegak, sehingga Aisyah mengetahui bahwa Nabi sedang sujud. Karena dalam posisi rukuk atau berdiri, telapak kaki menapak di lantai.
Aisyah radhiyallahu ‘anha menyentuh kulit Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau sedang shalat. Hal itu tidak membatalkan shalat, buktinya Nabi tidak menghentikan shalatnya dan tetap menyelesaikannya.
Sentuhan, seperti bersalaman, tidak membatalkan shalat selama tidak disertai syahwat. Ayat yang dipahami sebagian orang sebagai pembatal wudhu maksudnya adalah hubungan biologis, bukan sekadar bersentuhan.
Aisyah radhiyallahu ‘anha memahami bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang melaksanakan shalat tahajud. Shalat itu dilakukan pada malam hari dan di rumah. Adapun shalat wajib, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaksanakannya di masjid.
Ketika sujud, Aisyah radhiyallahu ‘anha mendengar bacaan yang diucapkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau memiliki hafalan yang kuat sehingga setiap gerakan, doa, dan dzikir Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dapat direkam dengan sangat baik dalam ingatannya.
Doa Sujud Perlindungan kepada Allah dari Murka-Nya
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan ampunan-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu. Aku tidak mampu memuji-Mu dengan sempurna. Engkau Maha Sempurna sebagaimana yang Engkau jelaskan tentang kesempurnaan diri-Mu.” (HR. Ahmad, dinilai shahih oleh Imam Ibnu Khuzaimah, Imam Ibnu Hibban, dan Syaikh Al-Albani)
Menyadari Kelemahan Manusia dan Kekuatan Allah
Doa ini mengajarkan betapa lemahnya manusia dan betapa kuatnya Allah. Kesadaran tersebut menjadi fondasi ibadah kepada Allah. Ibadah dibangun di atas keyakinan dan kesadaran akan kelemahan manusia serta kekuatan Allah.
Kalimat permohonan perlindungan dari kemurkaan dan hukuman Allah menunjukkan rasa takut kepada-Nya. Agar tidak dimurkai dan dihukum Allah, manusia harus kembali kepada-Nya. Orang yang menginginkan keridhaan Allah harus berusaha mendapatkannya. Orang yang menginginkan ampunan-Nya harus memohon ampun kepada-Nya. Ketika takut kepada Allah, tidak ada tempat untuk berlindung dan kembali selain kepada Allah.
Perbedaan Takut kepada Allah dan Takut kepada Makhluk
Takut kepada makhluk membuat seseorang menjauh dan menghindar dari sesuatu yang ditakutinya. Takut kepada Allah berbeda. Rasa takut kepada Allah justru mendorong seseorang untuk mendekat kepada-Nya.
Allah harus dicintai sekaligus ditakuti. Takut kepada Allah tidak sama dengan takut kepada binatang buas. Takut kepada binatang buas membuat seseorang menjauh, sedangkan takut kepada Allah membuat seseorang semakin mendekatkan diri kepada-Nya.
Satu-satunya yang dapat melindungi manusia dari neraka dan siksa Allah adalah Allah sendiri. Satu-satunya yang dapat melindungi dari adzab kubur dan adzab neraka juga Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Makna wa a’udzu bika minka adalah memohon perlindungan kepada Allah dari Allah. Jika seseorang memiliki banyak dosa dan ingin diampuni, caranya adalah beristigfar dan memohon ampun kepada Allah.
Tidak Mampu Menghitung Pujian untuk Allah
La uhsi tsana’an ‘alaik berarti bahwa manusia tidak mungkin memuji Allah secara sempurna. Nikmat yang Allah berikan sangat banyak sehingga manusia tidak akan pernah mampu mensyukurinya secara sempurna. Selalu ada kekurangan dalam rasa syukur.
Nikmat Allah dirasakan setiap detik. Namun, manusia tidak mengucapkan “Alhamdulillah” pada setiap detik. Idealnya, setiap nikmat yang diterima disyukuri dengan mengucapkan alhamdulillah.
Manusia tidak mungkin terus-menerus mengucapkan alhamdulillah. Ada waktu untuk tidur, makan, berbicara, bermain ponsel, dan menonton televisi. Bahkan seandainya seseorang mengucapkan alhamdulillah setiap detik, pujian itu tetap belum sebanding dengan nikmat Allah.
Setiap detik, manusia tidak hanya menerima satu nikmat. Selain bernapas, manusia juga melihat, mendengar, mencium, berbicara, bergerak, merasakan jantung berdetak, darah mengalir, serta ginjal dan lambung bekerja. Karena itu, ucapan alhamdulillah setiap detik pun tidak akan sebanding dengan seluruh nikmat Allah. Sehingga wajar kalau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Ya Allah, aku tidak mungkin bisa memuji-Mu dengan sempurna.”
Manusia tetap memuji Allah meskipun tidak akan mampu melakukannya secara sempurna. Allah Mahasempurna sebagaimana Dia menjelaskan kesempurnaan diri-Nya. Sebanyak apa pun manusia memuji-Nya, pujian itu tidak akan pernah sebanding dengan kesempurnaan Allah.
Beribadah Maksimal tanpa Kesombongan
Jangan merasa telah beribadah secara sempurna dalam beramal saleh. Kenyataannya, hal itu tidak mungkin. Disebutkan dalam sebuah hadits tentang seseorang yang beribadah siang dan malam sepanjang hidupnya. Ketika hari kiamat tiba dan ia melihat pahala serta balasan yang Allah berikan, ia merasa ibadahnya tidak ada apa-apanya karena sangat sedikit dibandingkan dengan kenikmatan surga yang Allah berikan kepadanya.
Semaksimal apa pun manusia beribadah, ibadah itu tetap tidak sebanding dengan kesempurnaan dan kebaikan Allah serta surga yang Dia sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.
Rajin beribadah, beramal saleh, dan mengaji merupakan hal yang baik. Namun, semua itu tidak boleh melahirkan kesombongan. Salah satu indikator kesombongan ialah menganggap remeh orang lain, seperti meremehkan orang yang belum shalat, belum menutup aurat, atau belum mengaji.
Kesungguhan dalam beribadah belum menjamin kesempurnaan. Orang yang rajin menghadiri pengajian pun belum tentu selalu fokus; terkadang ia mengantuk, berbincang dengan teman, atau bermain ponsel. Ini menunjukkan bahwa ibadah manusia masih memiliki kekurangan sehingga tidak ada alasan untuk menyombongkan diri.
Tidak ada jaminan bahwa seseorang akan tetap istiqamah sampai meninggal dunia. Sebaliknya, orang yang hari ini diremehkan karena belum shalat, belum mengaji, atau belum beramal saleh bisa saja memperoleh hidayah dan menjadi orang saleh. Manusia tidak mengetahui akhir hidupnya sendiri maupun akhir hidup orang lain.
Beribadahlah secara maksimal, tetapi yakinlah bahwa ibadah itu masih memiliki banyak kekurangan. Perasaan kurang dalam diri penting untuk menahan seseorang agar tidak sombong.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Bacaan Sujud “Allahumma inni a’udzu biridhaka min sakhatik”” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56494-bacaan-sujud-allahumma-inni-audzu-biridhaka-min-sakhatik/